Osmar Tanjung, Sekjen PKP Berdikari

Kita dan Pentingnya Ruang Ekspresi Rakyat

Osmar Tanjung, Sekjen PKP Berdikari

Secara umum ada dua kategori identitias kita. Yang pertama ialah identitas yang berurusan langsung dengan diri kita, bentuk fisik kita, karakter kita. Contohnya, saya ramah-tamah, saya gemuk, saya tidak mudah dibujuk. Yang kedua ialah identitas sosial--identitas yang kita miliki bersama orang lain--yaitu siapa diri kita, bukan siapa diri saya. Contohnya, saya muslim, saya WNI, saya pendukung Liverpool. Dalam kategori identitas sosial ini, kita dengan mudah dapat merasakan kebersamaan dan solidaritas bersama orang lain yang mungkin kita tidak pernah dan takkan pernah temui.

Identitas kita tidak statis, tergantung juga konteks di mana kita berada. Seorang muslim asli Malang bisa merasa solidaritas sesama umat Islam, tapi dia juga bisa merasakan kebersamaan sebagai warga negara Indonesia dengan WNI yang beragama dan suku lain. Contohnya Hendro, seorang mahasiswa dari Malang yang ikut program S-2 di Inggris. Dia salat di masjid yang memiliki umat yang sangat ragam, ada mahasiswa dari Bangladesh, ada sopir taksi Inggris keturunan Pakistan, ada mualaf dari Prancis, ada pengungsi dari Somalia. Si Hendro memiliki rasa solidaritas yang tinggi dengan sesama umat ini. Alangkah nikmat rasa kebersamaan salat berjemaah dengan warga negara dari berbagai pelosok dunia yang lain.

Namun, ada saatnya Hendro juga merasa kangen dengan kampung halamannya. Kepingin makan bakso, capek berbahasa Inggris, kepengin membahas perkembangan Tanah Air-nya. Apalagi, menurut Hendro, masakan Bangladesh seperti makan jamu, masakan Somalia tidak ada rasa pedas. Dalam keadaan ini, rasa kebersamaan Hendro dan solidaritas ketika dia kumpul dengan mahasiswa Indonesia lain meningkat, apa pun agama atau sukunya.

Dalam bahasa ilmu sosial, identitas ialah sesuatu yang 'performatif', yaitu sesuatu yang kita praktikkan, yang kita tunjukkan dan terkadang yang kita merasa terpaksa sembunyikan.

Memang, bergandanya identitas kita hampir tidak terbatas, dengan ribuan kemungkinan identitas sosial yang bisa kita miliki. Selain bergandanya identitas sosial kita, tidak kalah penting ialah keragaman identitas sosial kita. Menurut penelitian beberapa pakar psikologi, semakin berganda dan beragam identitas sosial kita, semakin tinggi tingkat kreativitas, semakin mampu berinovasi, dan semakin fasih dan orisinal pemikiran kita (Steffens et al 2015).

Selanjutnya 1 2 3 4